Tuesday, May 05, 2009

Masuk Tivi?


Pasca Pemilu Legislatif beberapa waktu yang lalu, negara ini tiba-tiba seolah disibukkan dengan berbagai aktivitas elit politik partai yang tengah berusaha menjalin koalisi. Tentu, koalisi yang menguntungkan masing-masing pihak. Yang tadinya kawan jadi lawan, yang tadinya lawan jadi kawan, yang tadinya tidak kenal jadi kenalan, yang tadinya tidak peduli jadi dipaksa peduli karena tidak ada lagi yang tersaji di media massa selain kasak-kusuk kekisruhan koalisi tadi.


Demikian juga di sekitar kantor saya, yang kebetulan letaknya dekat dengan rumah dinas salah seorang ketua partai politik yang di Pemilu legislatif lalu partainya menduduki posisi dua. Kesibukan tiba-tiba melanda di sekitar kantor, yang mendadak dipenuhi wartawan dan juru kamera dari berbagai stasiun televisi maupun media cetak untuk berburu berita. Yang dicari tentu adalah aktivitas koalisi sang petinggi partai tadi. Siapa yang bertamu, ada acara apa di rumahnya, dan pernak-pernik lainnya yang diharapkan bisa dijual sebagai berita.


Maka sampailah juga kesibukan itu pada diri saya yang hina dina dan tidak peduli ini.


Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang menjalani rutinitas dan menunaikan kewajiban untuk mencari makan siang bersama teman-teman, tak disangka tak dinyana, seorang reporter ditemani seorang juru kamera (lengkap dengan kameranya tentunya) mendekati kami. Mungkin karena saya dan teman-teman sudah mulai terbiasa melihat kamera berseliweran, kami tidak terlalu memperhatikan mereka dan tetap berjalan lurus sambil bersenda gurau menuju tempat makan. Maklum... lapar...


Saya sendiri berjalan paling belakang karena sedang berbicara melalui telepon genggam saya. Maklum... banyak penggemar...


Sang reporter tiba-tiba mencegat salah seorang teman saya. Minta ijin untuk mewawancarai nampaknya. Teman saya kaget, tapi tetap berjalan, gelagapan menolak. Sang reporter beralih ke orang lain, tapi reaksi yang sama ditemui.


Sampailah pada saya, yang ketika itu baru saja selesai bertelpon-telpon ria. Mau mewawancarai saya ternyata. Sontak saya juga kaget. Gelagapan menolak. Tapi nampaknya karena tidak ada orang lain di belakang saya, si reporter bersikeras. Mungkin karena wajah saya yang lumayan “camera face” juga (agak-agak bermuka kotak seperti kamera, ditambah badan membulat karena obesitas, jadi mirip lensa).


Yah, singkat kata, berikut dialog singkat yang terjadi waktu itu (seingatnya saja, karena kebetulan ketika kejadian tidak membuat notulensi atau membawa rekaman):

Reporter: “Mas, wawancara sebentar yah. Mau kan?”

Saya: “Eh... apa? Kenapa? Duh... eh... maap mbak, saya mau makan. Tuh sama temen-temen saya di depan”

Reporter: “Aaaah... sebentar aja kok mas...”

Saya: “Lapar mbaaak” (duh, mengenaskan sekali jawaban saya... spontanitas yang menyedihkan)

Juru Kamera: (ikut-ikut merajuk) “iya mas, bentar aja kok. Yah. Yah... Saya nyalain nih kameranya”

Reporter: (sambil menyentuh lengan saya sedikit) “mau yah mas.. hehe...” (nyengir)

Saya: (garuk-garuk kepala. Ketombe berhamburan) “Eh, yaudah deh... tapi cepetan yak. Tentang apa ya mbak?”

Juru Kamera: (mulai menekan beberapa tombol di kameranya lalu mulai bergaya merekam dengan kamera dipanggul di bahu)

Reporter: “Tentang koalisi. Eh, mas karyawan Bappenas kan?”

Saya: “Eh? Saya? Bukan PNS mbak. Mending cari yang PNS aja” (jawaban apaaaaaaaaaa pula? Gak mutu.Gak Bonafid. Gak nyambung. Payah. Culun. Keliatan groginya)

Reporter: “Oh, ya gapapa mas. Yang penting kerja disini juga kan?”

Saya: (Bicara dalam hati: “Sial...”)

Reporter: (Bicara pada juru kamera) “Dah siap belom?”

Juru kamera: (Entah bicara pada siapa) “Eksyeeen...” (Maksudnya: Action!)


Maka dimulailah wawancara singkat itu, dengan dialog sebagai berikut:

Reporter: (Mulai mengajukan pertanyaan wawancara) “Mas, menjelang pemilu presiden nanti kan banyak petinggi partai dan pejabat negara yang sibuk berkoalisi ya. Mas merasa terganggu gak dengan itu?”

Saya: (Pasang tampang jaim, cool, sok keren, padahal muka kuyu karena stress mikirin kerjaan dan sudah beberapa malam begadang menangis karena ditinggal cinta --> lebay...kebanyakan nonton sinetron) “Hmm... maksudnya gimana mbak?” (malah terlihat oon)

Reporter: “Maksud saya, kan banyak pejabat negara yang jadi lebih sibuk mengurus koalisi daripada negara. Mas sebagai rakyat merasa terganggu tidak dengan itu?”

Saya: (Duuh, ini pertanyaan kok tendensius sekali... nampaknya lagi ingin membuat-buat berita berdasarkan opini nih...) “Nggak mbak”

Reporter: (Nampak sedikit terkejut dengan jawaban saya) “Maksudnya gimana tuh mas?”

Saya: “Maksud saya... Saya memang ga terlalu merasa ada bedanya. Toh sebelumnya saya rasa juga saya ga terlalu melihat mereka (orang-orang yang sibuk berkoalisi itu) bekerjanya bagaimana. Ya sekarang yang kerja tetap masuk kerja, yang jualan di pasar tetap jualan, yang bertani tetap bertani. Kehidupan tetap jalan. Ga ada bedanya juga. Maksud saya, kalau memang mau menunjukkan perhatian pada rakyat atau negara, ya tidak perlu tunggu 5 tahun sekali Pemilu kan? Jadi saya rasa saya ga terlalu terganggu, karena toh saya ga melihat beda pengaruhnya juga dengan aktivitas mereka sebelum ini.”

Reporter: “oh... gitu ya...” (Sambil senyum-senyum yang saya tidak tau maknanya apa. Mungkin menurutnya jawaban saya tadi itu jawaban bodoh... atau dia sedang curi-curi pandang dengan saya. Saya rasa yang terjadi adalah kemungkinan yang pertama)

Saya: “Kira-kira begitulah mbak”

Reporter: “Oke deh mas. Makasih ya”

Saya: (Udah nih? Cepet amat?) “Sama-sama”


Saya tidak mau menyebutkan stasiun televisi apa yang mewawancarai saya. Tidak terlalu penting juga sebenarnya.

Yang jelas, setelah wawancara itu, ketika sedang makan, saya baru menyadari sesuatu hal...


Jawaban yang saya berikan tadi cukup spontan. Masalahnya, kalau dipikir-pikir lagi... kok jawaban saya itu skeptik sekali ya? Kalau benar bahwa itu adalah jawaban spontan saya, maka berarti pada dasarnya mungkin saya memang skeptik. Bawaan dari lahir, dan menjadi karakter bawah sadar saya. Sehingga ketika ada yang bertanya, langsung jawaban skeptik semacam itulah yang keluar, walaupun belum tentu itu maksud saya yang sebenarnya.


Well... I guess maybe I am skeptical... but surely, I’m not proud of it.


Tapi mungkin saya tidak se-skeptik itu juga. Kalau saya memang skeptik (dan sarkastik), mungkin saya akan bilang bahwa trotoar di sekitar kantor saya itu kecil. Perkaranya, trotoar yang kecil itu kadang dipakai untuk menaruh kamera (beserta tripodnya), sehingga bisa menyorot langsung ke rumah sang petinggi partai. Sisa tempat di trotoar itu digunakan oleh para reporter dan juru kamera beristirahat atau sekedar mengobrol.


Imbasnya, pejalan kaki terpaksa berjalan dengan menginjak area rumput di pinggir trotoar. Area rumput itu pun bahkan juga penuh tripod dan kamera, sehingga pejalan kaki harus rela turun ke sedikit bagian aspal jalan raya. Bagaimana kalau ada yang tertabrak kendaraan yang lewat? Itu masih ditambah kadang harus menunduk agar tidak menghalangi kamera yang sedang meliput. Kan tidak lucu kalau di tengah-tengah berita tiba-tiba kepala saya melintas misalnya. Ya tentu kalau orangnya cukup percaya diri (atau tidak mau ambil pusing), dia akan lewati saja kamera itu, tak peduli sedang merekam atau tidak. Kalau yang lebih percaya diri lagi tentu akan sekalian saja melambaikan tangan dan tertawa lebar ke arah kamera sambil bilang “Ibuuu!!! Saya masuk tipiiii!!!”. Yah... paling dibilang kampungan...


Intinya, saya rasa ITU lebih mengganggu saya.

Toh lagipula perkara koalisi ini lumayan untuk alternatif dibanding nonton gosip infotainment.

Bagaimana menurut Anda? Anda terganggu?



Catatan tambahan: Sampai beberapa hari setelah insiden wawancara itu, sepertinya wawancara itu tidak pernah disiarkan. Entah karena jawaban saya yang terlalu skeptik dan tidak sesuai dengan harapan atau misi dari si reporter, atau karena rekaman itu sekedar untuk dijadikan koleksi pribadinya saja. Atau bisa juga, kemarin itu hanya gurauan saja dan kameranya sebenarnya tidak merekam. Entahlah.


Keterangan: Gambar diambil (tanpa permisi, maaf, hanya untuk hiasan saja) dari: http://www.mediamensch.com/2008/03/cameraman-in-salisbury-press-conference.html dan http://www.meridianusa.com/film_production.htm. Makasih ya...

Friday, February 20, 2009

Pertanyaan-pertanyaan Dalam Hidup Sehari-hari

Ini adalah beberapa pertanyaan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari saya. Mungkin Anda juga pernah menanyakannya? Saya berikan sedikit ulasan juga untuk jawabannya. Bukan jawaban final, dan tentu Anda bisa melengkapi.


1. Kenapa harus pakai sistem “nota” waktu belanja?

Untuk saya, sistem belanja yang paling sederhana dan praktis adalah begini: Anda pilih barang yang mau dibeli, bawa barang itu ke kasir, bayar, bungkus, bayar, lalu pulang.


Saya kurang mengerti mengerti mengenai kenapa harus ada sistem nota dengan sistem begini: Anda pilih barang yang mau dibeli, cari pegawai terdekat, bilang ke dia bahwa Anda mau beli barang itu, dia catat di buku nota, ambil notanya dan bawa ke kasir, bayar, balik lagi ke tempat Anda menemukan barang itu dan temui petugas pemberi nota tadi, ambil barang yang sudah terbungkus, lalu pulang.

Buat saya agak kurang praktis.


Oke tapi sepertinya sistem ini akan sangat membantu kalau kita membeli barang berukuran besar seperti televisi, kulkas, mesin cuci, atau bahkan kendaraan bermotor, karena membopong barang-barang semacam itu ke kasir tentu akan SANGAT merepotkan. Tapi kalau untuk celana, kemeja, kertas kado, boneka, dsb., tidak perlulah...


2. Urinoir dengan sensor?

Oke, saya pasrah kalau dibilang kuno soal ini.

Untuk mungkin belum tau, urinoir adalah tempat buang air kecil (BAK). Kalau di toilet umum, biasanya urinoir di toilet pria itu berupa sebuah kotak yang ditempel di dinding. Istilah ini kurang umum didengar, karena biasanya orang-orang hanya menyebutnya secara sederhana sebagai... “tempat (maaf) pipis”.


Kalau Anda pria dan pernah ke toilet umum untuk pria... atau Anda wanita tapi entah bagaimana tau ada barang apa saja di toilet pria... mungkin Anda pernah memperhatikan bahwa di beberapa mall dan hotel-hotel mewah, terutama di Jakarta, ada barang “aneh” di sana. Ya! Urinoir dengan sensor!


Untuk sebagian orang yang sangat suka dengan kemajuan teknologi, mungkin penemuan ini dianggap sebagai salah satu pencapaian mutakhir yang fundamental dalam dunia pertoiletan. Sensor terletak sedikit di atas urinoir, konon katanya ia bisa memindai tubuh orang yang sedang BAK, lalu secara otomatis akan memerintahkan si urinoir untuk mengeluarkan air untuk membilas dirinya sendiri. Sangat canggih bukan?


Masalahnya... saya tidak tahu persis kapan sebenarnya si sensor akan memerintahkan urinoir itu mengeluarkan air pembilas, dan apa tepatnya yang dia deteksi. Apakah tubuh saya (kalau tubuh saya berada dalam “jarak pandang” si sensor, dia keluarkan airnya)? Ataukah kalau ada air yang membasahi si urinoir (kalau ada air seni yang membasahi urinoir, dia akan mengeluarkan air pembilas)? Atau kita harus melambaikan tangan dulu didepan sensor itu? Atau bagaimana?

Oke, lantas kapan keluarnya air pembilas itu? Beberapa detik/menit setelah dia mendeteksi ada yang BAK? Atau tepat ketika kita sudah selesai BAK? Beberapa detik setelah kita meninggalkan urinoir itu? Atau kapan?


Jawaban yang paling sering saya dengar adalah... beberapa detik SETELAH kita tinggalkan urinoir.


Nah... Ada beberapa kasus yang pernah saya temui terkait urinoir bersensor ini.

Pertama, saya mau BAK, urinoir penuh. Ketika ada yg sudah selesai, sy segera ke urinoir yg kosong. Tapi ternyata... air pembilas tidak keluar-keluar untuk membilas hajat orang sebelum saya. Jadi agak-agak... gimanaaa gitu.


Kedua, saya pernah memergoki seorang petugas kebersihan toilet secara manual menyiram urinoir bersensor dengan menggunakan gayung, ketika di toilet itu tidak ada pengunjungnya. Ternyata rusak. Dan tidak ada yang tahu, karena setelah BAK, orang langsung pergi, tidak peduli air keluar atau tidak. Toh kalau kemudian dia sadar bahwa airnya tidak keluar-keluar (rusak), sudah terlanjur BAK. Tentu yang di kasus pertama pun urinoirnya rusak, dan orang yang memakainya sebelum saya itu tidak tahu.


Ketiga, saya mau BAK, dan bingung bagaimana cara membuat air pembilasnya keluar (maklum, waktu itu baru pertama kali pakai yang bersensor). Saya menyerah, lalu mencari urinoir “normal”, atau sekalian toilet berjamban saja. Ketika saya meninggalkan urinoir bersensor tersebut, tiba-tiba air keluar. Tidak memancur. Alirannya terlihat jelas pun tidak. Alirannya seperti rembesan-rembesan saja di dinding bagian dalam urinoar. Cukup untuk membilas hajat. Dan sudah. Itu saja. Sangat hemat air.


Masalahnya... kalau air itu baru keluar setelah saya tinggalkan, dan air itu hanya mengalir di dinding-dindingnya, bagaimana saya akan... mmm... membasuh diri saya sendiri?

Ya itu penting. Tanpa itu, masih ada najis yang tersisa di tubuh saya, dan saya ga bisa sholat.

Kenapa makin modern malah makin jorok gini sih? Apa yang menciptakan model mutakhir ini tidak memikirkan mengenai kebersihan badan si penggunanya?

Lagipula, sepraktis apapun model ini, saya rasa model yang lama juga sudah praktis kok. Model lama yang saya maksud adalah model urinoir dengan tombol atau tuas diatasnya. Tinggal tekan tombolnya, air keluar, dan ada yang mengalir (memancur). Masih kurang praktis juga? Saya rasa model lama ini setidaknya melatih kita untuk bertanggung jawab. Habis BAK ya disiram (sendiri).


3. Perilaku di Lift (1)

Anda pernah melihat orang menahan pintu lift terbuka supaya orang lain bisa masuk? Ini adalah tindakan yang sangat mulia dan baik sekali.


Yang saya bingung... kenapa banyak orang yang menahan pintu lift itu secara manual dengan tangan ya? Maksud saya, tangannya benar-benar menahan pintu itu supaya tidak menutup. Bukankah itu dalam jangka panjang malah bisa merusak pintu liftnya? Dan bukankah di setiap lift ada tombol dengan gambar kira-kira seperti dua arah panah yang berlawanan? Itu fungsinya untuk menjaga supaya pintu lift tetap terbuka. Jadi Anda tidak perlu menahan secara manual. Cukup tekan saja tombol itu sampai waktu yang Anda inginkan.


Mudah bukan?


Ya... tapi memang lebih terlihat heroik kalau ditahan manual sih. Apalagi kalau Anda pria, dan yang mau masuk itu seorang wanita.


4. Perilaku di Lift (2)

Saya tidak habis pikir... kenapa banyak orang menunggu lift TEPAT di depan pintu liftnya. Bagaimana orang yang di dalam lift bisa keluar?


5. Membicarakan Orang Lain

Yang saya maksud disini adalah membicarakan “keburukan” atau minimal “sesuatu yang secara umum dianggap buruk”. Kenapa orang suka sekali melakukan ini?


Awalnya saya pikir itu karena banyak orang kurang kerjaan. Tapi ternyata, setelah saya di “dunia kerja”, saya pelajari bahwa sesibuk apapun kantor itu, dan sesibuk apapun terlihatnya semua orang, ternyata selalu masih ada waktu untuk menggosipkan kejelekan orang lain, dan menyebarluaskannya. Entah memang diniatkan, atau sekedar curi-curi waktu untuk itu.


Di satu buku psikologi populer yang saya lupa namanya (karena waktu masih kuliah cuma saya baca sekilas saja di Toko Buku Gramedia... lalu tidak membelinya karena tidak ada dana), ada satu perilaku/sifat yang umum dimiliki banyak orang. Sifat itu adalah... tidak mau terlihat “jelek”, atau kalaupun dia jelek, maka setidaknya harus ada yang terlihat lebih jelek dari dia... setidaknya di mata orang lain. Kalau tidak begitu... hancurlah dunia.


Ini bisa menjelaskan fenomena begitu maraknya gosip, dan kenapa jarang yang digosipkan itu adalah sesuatu yang baik. Kalau “tidak begitu buruk” pun, biasanya akan tersampaikan seolah “benar-benar buruk”. Wajar saja, karena sangat jarang seseorang bisa menceritakan tentang kisah “A” dengan tepat “A”. Biasanya sudah berubah menjadi “AB” atau “ABZ”. Bertambah terus bumbunya. Berkurang malah jarang.


Biasanya, para penggosip ini mencari rasa “aman” untuk dirinya sendiri. Dengan menggosipkan kejelekan orang lain, mereka akan merasa bahwa diri mereka “tidak buruk-buruk amat”, karena “ada orang lain yang lebih buruk”. Atau minimal, mereka merasa aman karena orang-orang (ternyata) tidak (sedang) menggosipkan keburukan mereka sendiri, melainkan orang lain. Jadi mereka bisa terus merasa “lebih baik dari orang lain”.


Pathetic!


Kenapa saya menceritakan ini? Karena pagi ini tiba-tiba seseorang (sebut saja X) mendatangi saya dan mengatakan bahwa seseorang (sebut saja Y) meminta saya untuk melakukan sesuatu (sebut saja Z). Saya tidak keberatan dengan permintaannya, tapi saya heran kenapa harus seperti itu cara mintanya. Ketika saya tanya ke X, “siapakah Y itu?”, X hanya jawab “adalaah, Awan gausah tau”. Tidak puas, saya tanyakan lagi : “Kenapa dia minta saya melakukan itu?”, dan X hanya jawab “ya gitulah... mungkin Awan juga sudah tau”. Lalu X pergi.


WHAT THE **** ?!?!?!

Jadi, seorang “adalaah” meminta saya untuk melakukan sesuatu dengan alasan “gitulaaah”.


Well... Saya tidak respek dengan orang-orang semacam si Y ini karena 2 alasan. Pertama, dia cukup bermental pengecut untuk mengatakannya langsung ke saya, dan membahasnya terlebih dahulu (karena saya tidak merasa ada yang salah). Kedua, berarti Y telah membicarakan saya di belakang (minimal dengan X), dan dia tidak peduli apakah yang diomongkan itu benar atau tidak. Yang jelas menurut dia, saya salah (sabodo teuing).


Kenapa saya tulis disini? Sederhana... karena saya tidak tahu Y itu siapa, sehingga saya tidak bisa damprat langsung ke orangnya.


Jadi... Ya sudalaaaah... =))



NB: Gambar diambil dari situs-situs berikut (maap tanpa ijin ya mbak/mas). Maaf juga gambarnya saya permak sedikit untuk menunjukkan apa yang saya sedang bicarakan.

- Gambar orang bergosip dari sebuah email yang saya terima tentang golongan darah. entah dari mana asalnya, tapi sangat lucu.

- Gambar urinoir dari http://www.javastone.com/world/gallery/

- Gambar tombol lift dari http://azizraharjo.com/index.php/tips-bagaimana-menghack-lift/


Friday, January 23, 2009

Ada Apa Dengan Obama?


Beberapa hari lalu, Barack Obama akhirnya dilantik sebagai Presiden AS (Amerika Serikat) ke 44, melalui upacara pelantikan yang dihadiri massa dengan jumlah yang konon katanya merupakan sebuah rekor baru dalam sejarah pelantikan presiden di AS.

Saya pribadi tidak tahu kenapa terpilihnya Obama sebagai Presiden AS terkesan begitu penting di Indonesia, maupun di seluruh dunia. Maksud saya, begitu pentingnya sampai-sampai poin-poin penting yang diutarakan Obama dalam upacara pelantikannya itu sampai dikutip dan dijadikan headline dalam website Depkominfo. Padahal, tadinya saya pikir Website Depkominfo semestinya lebih banyak bicara soal pembangunan bidang komunikasi dan informasi di Indonesia. Kalau berita seperti itu cukup di koran lah.

Demikan juga, entah kenapa Pemilu AS yang kemarin itu seolah dianggap sebagai "Pemilu Dunia". Pun masyarakat (urban) di Indonesia seperti menganggap mereka ikut serta dalam Pemilu itu.

Apa sekedar karena Obama pernah tinggal di Menteng dan punya adik dengan nama Jawa?

Yang jelas, dalam pidato pelantikannya (silakan baca di linknya Depkominfo itu) Obama memang menyatakan bahwa "Kita (AS) siap memimpin dunia sekali lagi". Yah, saya rasa dia cukup punya kharisma untuk itu. Bayangkan, baru pemilunya saja orang di Indonesia sudah harap-harap cemas. Dan ketika Obama menang, banyak juga di Indonesia yang turut berucap "alhamdulillah". Padahal, apa signifikansinya buat Indonesia sih?

Well... sekedar urun rembuk, saya pribadi sebenarnya agak bermasalah dengan perkataan "Kita (AS) siap memimpin dunia sekali lagi" itu. Masalahnya... Indonesia termasuk bagian dari dunia. Ummat Islam juga termasuk bagian dari dunia. Yah, saya rasa saya tidak terlalu setuju kalau Indonesia maupun ummat Islam dipimpin oleh AS. Tapi... siapa juga saya bisa ngomong gitu? :p

Sepertinya wajar-wajar saja orang menyimpan harapan. Maksudnya, siapa tau ada kejadian yang bisa merubah dunia, menjadikan nasib mereka lebih baik, dsb. Dan kehadiran Obama dipandang membawa harapan itu. Wajar, mengingat sepak terjang AS di dunia pada rezim-rezim sebelumnya memang sudah sampai taraf memuakkan. Tapi tanpa disertai usaha dari dalam diri sendiri untuk maju, harapan yang disematkan pada orang (atau bangsa) lain sama saja seperti mimpi di siang bolong.

Saya pribadi tidak memandang kehadiran Obama sebagai Presiden AS ke 44 itu cukup signifikan/esensial untuk menumbuhkan optimisme... ataupun pesimisme... terhadap apapun. Saya lebih melihat hal itu sebagai... perkembangan terbaru. Tidak lebih dari itu. Maksud saya, apakah kita akan berharap perekonomian dunia akan lebih maju setelah Obama jadi Presiden? Atau lebih absurd lagi, apakah perekonomian Indonesia tiba-tiba jadi lebih baik? Saya lebih suka berpikir bahwa SIAPAPUN yang jadi Presiden di negara MANAPUN, pokoknya Bangsa Indonesia ini harus berjuang untuk maju! Yang lain adalah faktor eksternal. Bisa jadi peluang, bisa jadi penghambat. Tapi toh peluang juga tidak akan berguna kalau tidak diambil. Dan penghambat hanya akan menghentikan kita kalau kita sendiri yang memutuskan untuk menyerah. Tidak ada bedanya.

Tanpa usaha pembangunan dari bangsa Indonesia sendiri, sepertinya harapan itu cuma ungkapan lain dari kemalasan untuk berjuang dan berharap kejatuhan durian.

Lebih absurd lagi, entah kenapa tiba-tiba kalangan muslim di Indonesia (dan mungkin juga di banyak belahan dunia lain), juga tiba-tiba menaruh harapan besar pada Obama ini. Harapan bahwa citra Islam di dunia akan berubah, tidak lagi dimusuhi, dan kedamaian akan tercipta, sampai termasuk harapan untuk kondisi yang lebih baik di Palestina, tiba-tiba tercetus di sana-sini, meski tidak pernah diungkapkan secara gamblang sebagai sebuah suara yang bulat (alhamdulillah tidak sampai begitu).

Bagaimana caranya bisa sampai begitu ya?
Apakah karena dulu Obama seorang muslim? Mestinya dipikirkan juga kenapa 20 tahun yang lalu dia menjadi seorang Kristen bukan?

Analog dengan yang pertama tadi, saya rasa lebih baik untuk mengharapkan kesadaran para pemimpin dunia Islam kalau ada sesuatu yang salah, dibanding mengharapkan orang lain bisa tiba-tiba membuat perubahan. Saya rasa, SIAPAPUN yang menjadi presiden MANAPUN, ummat Islam tetap harus membina persatuan kita sendiri, dan berjuang untuk merebut kembali peradaban ini dengan tangan kita sendiri, dengan karya kita sendiri. Bisakah kita melakukan itu?


Mengenai Palestina... hmmm...
Well, mungkin beberapa kutipan berikut bisa menjadi perhatian:
1. Setelah menghimbau israel membuka blokade jalur gaza, di akhir berita diberitakan begini : "Obama juga menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas hilangnya nyawa orang-orang tak bersalah pada konflik Gaza. Selain itu, Dia meminta Hamas menghentikan serangan roketnya ke wilayah Israel. Obama menadaskan pihaknya berkomitmen untuk menjaga keamanan Israel." Berita lengkapnya bisa dilihat disini.
2."Barack Obama menyatakan dukungan kuat untuk Israel dalam pidato kebijakan luar negeri pertamanya sejak menyatakan dirinya menang sebagai calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat." Bisa dibaca lengkapnya disini.
3. dll dll... silakan cari sendiri.

Yah, ketika banyak teman saya seolah bertanya-tanya kenapa Obama tidak berani mengecam Israel atas agresinya ke Palestina baru-baru ini, dan menghibur diri dengan berharap bahwa itu akan dilakukan setelah dia dilantik jadi Presiden, saya geleng-geleng kepala saja. Saya rasa bukan Obama tidak berani mengutuk Israel. Dia memang TIDAK PERLU melakukannya. Itu saja.

Memang, katanya Obama akan memerintahkan penarikan tentara AS dari Irak. Tapi ayolah, semua orang juga tahu kalau Irak adalah sebuah blunder buat AS. Toh tujuan mereka (minyak dan kejatuhan Saddam Husein) sudah tercapai. Tidak ada gunanya lagi memang mereka disana. Itu cuma konsekuensi logis dari blunder Bush kemarin, dan memang jadi dagangan Obama ketika kampanye.

Saya juga sempat bertanya-tanya kenapa Israel "memilih" waktu sekarang untuk menyerang Palestina secara membabi-buta seperti ini. Bukan 4 bulan lalu misalnya. Saya rasa, kalau seandainya Israel menyerang Palestina SEBELUM Pemilu AS berakhir, sikap para kandidat presiden terhadap agresi itu akan sangat mempengaruhi pandangan dunia (termasuk masyarakat AS yang adalah calon pemilih mereka). Jadi, lebih baik serang Palestina setelah Pemilu usai. Jadi, para kandidat tidak perlu berpura-pura mengutuk serangan itu untuk menarik simpati. Dan lagi, kalau para kandidat presiden AS itu menyatakan dukungan pada Israel ketika mereka kampanye, tidak akan ada gejolak terlalu besar, karena Israel belum melancarkan agresi besar-besaran itu.

Teori yang terlalu konspiratif?

Mungkin. Tapi mungkin juga benar, mengingat besarnya pengaruh Israel (dan Yahudi) terhadap AS saat ini, sangat sulit untuk membayangkan ada seseorang yang bisa menjadi kandidat Presiden AS tanpa ada kata "silakan" dari kalangan Yahudi (dan Israel). Toh Obama sendiri sudah sejak masih kampanye sudah menyatakan dukungannya pada Israel. Tentu saja itu sebelum agresi Israel ke Palestina, jadi tidak akan ada terlalu banyak yang mencibir (atau mendengar) mengenai dukungan Obama ke Israel tersebut. Setelah Israel menggila seperti sekarang, ya memang wajarnya dia tidak perlu kutuk mengutuk. Kalaupun dia "akhirnya" mengutuk, toh agresi itu sudah terjadi, dan saya rasa tidak akan ada tindakan lebih jauh (dari sebatas mengutuk/mengecam) pada Israel dari AS mengenai hal itu.

Jadi...
Saya mau ngomong apa?

Saya cuma mau ngomong...

Siapa Obama sehingga begitu pentingnya untuk kita? Kalau dia baik, baguslah. Kalau dia jahat, yasudah. Perubahan nasib ditentukan oleh tangan kita sendiri, dan ridho dari Allah.

Itu saja sepertinya.

Wallahu'alam bish-showab.



NB: Gambar Obama dari sini . Gambar "syuhada kecil" Palestina itu dari sebuah email yang diforward di sebuah milis yang saya ikuti. Saya gatau sumbernya dari mana. Maap semua dipakai tanpa izin yaa...
O iya, saya juga tetap mengapresiasi kemenangan Obama dalam konteks dia adalah "orang berwarna" pertama yang jadi Presiden di AS. Mengingat betapa besarnya pergesekan rasialis di AS, saya rasa itu merupakan sebuah kemajuan besar buat mereka. Selamat buat bangsa AS.

Tuesday, January 13, 2009

We Will Not Go Down

Saya rasa saya tentu bukan orang pertama yang ingin mengungkapkan kebencian terhadap Israel pada hari-hari terakhir ini. Apakah saya akan membuat tulisan mengenai Israel? Sepertinya tidak. Pada tahun 2006 lalu, ketika terjadi krisis kemanusiaan di Lebanon dan Palestina, ternyata saya sudah pernah menulis panjang lebar mengenai Israel dan Amerika Serikat. Percayalah, tulisan itu memang panjang lebar. Kalau mau baca, bisa lihat disini: http://awandiga.blogspot.com/2006/08/menapaki-kejayaan-ditulis-dalam.html

Jadi aneh sendiri. Saya tau pengaruh Israel di Amerika dan dunia. tapi saya gatau kalo pengaruh itu juga kuat untuk negara-negara Arab dan negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim (ya, maksud saya negara kita tercinta ini).

Apa kita butuh Hitler (lagi) untuk mengendalikan orang-orang Yahudi? Tidak, saya tidak benci semua orang Yahudi. Saya cuma benci orang-orang Israel yang memerangi orang-orang Palestina dan membuat propaganda mengenai itu.

Mana yang menurut Anda lebih layak diharapkan? Apakah mengharapkan kesatuan sikap dan tindakan negara-negara Arab dan ummat muslim sedunia terhadap Israel (dan menghentikan semua perundingan kosong yang tidak menghasilkan apa-apa), atau mengharapkan Hitler hidup lagi?


NB: Ini ada lagu dari Michael Heart soal Gaza. Judul postingan ini diambil dari judul lagu ini. Video clipnya bisa dilihat di : http://jp.youtube.com/watch?v=dlfhoU66s4Y


We will not go down (Song for Gaza)
Michael Heart (www.michaelheart. com)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In Gaza tonight
We will not go down
In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In the night, without a fight
We will not go down
In Gaza tonight
***

Thursday, October 09, 2008

Selamat Lebaran

Assalamu’alaikum wr. wb.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum.

Selamat hari raya Iedul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga kita bisa menjadi insan yang semakin mencintai Allah…