Thursday, November 19, 2009

Ada apa Dengan (film) 2012?

Baca headline koran-koran berharga 1000 rupiah di Ibu Kota hari ini... besar sekali tulisannya. Katanya MUI cabang manaaaa gitu (gamau bilang, biar ga dikira mendiskreditkan) cekal 2012 (film yang lagi heboh itu loh)....


........


Tidak bisa berkata-kata....


.......


Mikir.....

......


Terus ketawa sendiri...... =))


......

God! I love this country =))


(Kalo saya jadi produser filmnya, saya akan bayar MUI karena tanpa saya minta telah berjasa menjadikan film ini... lebih dari sekedar film)



NB: Saya belom nonton. Kehabisan tiket mulu.

Monday, October 26, 2009

Tiga Batang Rokok dan Segelas Besar Kopi-Moka


And here I am... having a date with myself...

Makasih Nov, dari dulu saya emang ingin coba saran kamu ini.
Ya tidak sepenuhnya sendiri juga sih. Ada teman-teman, tapi saya memilih duduk sendiri supaya bisa merokok... dan menulis ini dengan tenang.

Ada baiknya juga berkesempatan sendiri dalam keramaian seperti ini. Mengizinkan kita untuk berpikir dengan lebih tenang, lebih jernih. Kalau sendiri yang memang sendiri, kadang lintasan-lintasan pikiran yang mengganggu itu justru lebih kuat. Kalau ada sesuatu yang kurang, itu adalah alunan musik hidup yang tadinya saya harapkan di tempat ini. Baru mulai minggu depan katanya.

Lantas apa kiranya yang membuat saya ingin melakukan hal ini? Tentunya, ketika alasan itu tidak bersifat begitu pribadi, saya tidak membutuhkan kesunyian untuk berkontemplasi, dan bisa dengan seenaknya berbagi bersama teman-teman. Maka mungkin sekedar apa yang saya pikirkan saja. Ini tentang hidup -tentu saja, seperti biasa- dan apa yang bisa dilakukan hidup kepada kita, atau apa yang bisa kita lakukan terhadap hidup.


Semua kisah tentang hidup tak pernah mengenai hasil atau resultan akhir yang didapat. Karena hasil baru akan didapat ketika hidup itu berakhir. Dan itu berarti cerita tentang kematian.

Hidup selalu mengenai proses. Mengenai bagaimana dia dijalani. Mengenai kenyataan, mengenai harapan, mengenai bagaimana menghadapi kenyataan untuk membangun harapan.

Kita hidup di sebuah bumi yang berputar. Di sebuah massa cair dengan inti yang cair, yang begitu rapuh tapi kita tidak ada pilihan selain hidup diatasnya karena suatu gaya tak kasat mata yang kita sebut gravitasi. Bumi itu berputar bersama planet-planet lain mengitari matahari dengan kecepatan dalam sebuah galaksi yang kita sebut Bima Sakti. Bima Sakti bersama galaksi-galaksi lain juga berputar mengelilingi sesuatu dalam suatu sistem yang sudah terlalu besar untuk kita bayangkan. Dan mungkin, sistem itu juga berputar dalam suatu sistem lain yang jauh lebih besar.

Bila kita bayangkan itu semua... bila kita bayangkan seluruh sistem itu... dan menyadari bahwa kita adalah sebuah partikel yang begitu kecilnya sehingga mungkin tidak berarti lagi... maka eksistensi kita menjadi sesuatu yang absurd.

Kita hidup dalam pemahaman kita bahwa segala sesuatu terjadi untuk kita, karena kita, dan oleh karenanya kita merasa berhak untuk berpikir hanya dalam skala itu. Yang kita kadang tidak menyadari adalah bahwa dalam hidup itu kita sebenarnya hanya selalu berusaha meraih... menjangkau... dan mengharapkan sebuah ketidakpastian suatu saat akan memihak pada kita. Terlihat sia-sia. Tapi kadang memang hanya itu yang bisa kita lakukan, setidaknya untuk bangun setiap hari dan merasa bahwa hidup kita ini memang ada artinya.

"Sometimes we just reach out, and expect... NOTHING... in return." (Dari film “The Martian Child”)

Dalam konteks besar ini jugalah kemudian segala sesuatu yang kita pikirkan, yang kita rasakan, kita jalani, menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak berarti. Tidak signifikan dalam keseluruhan sistem itu. Apapun yang kita jalankan itu, segala emosi, semua kebahagiaan, kesedihan, harapan, amarah, kasih sayang... apa artinya itu?


Saya... semestinya... telah belajar bahwa amarah hanya akan membawa kepahitan bagi hidup kita sendiri. Tapi toh saya tetap tidak bisa menghindari kenyataan bahwa dalam jalan ini, kadang kemarahan dan kesedihan adalah bagian daripadanya. Adalah naif apabila saya bilang bahwa pengalaman hidup pada masa lalu bisa membuat kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa kini, atau masa depan. Itu tetap terjadi. Marah masih menjadi bagian dari karakter saya. Ya perkara apakah kemudian saya bisa menjalaninya dengan lebih baik atau tidak, itu mungkin hal yang berbeda.

Tapi kadang kita memang harus menerima bahwa sebuah sansak adalah salah satu penemuan paling bermanfaat dalam kehidupan umat manusia. Kesadaran bahwa naluri untuk menghancurkan itu kadang harus disalurkan, dan bahwa dendam itu kadang memang harus terbalas suatu saat nanti. Toh kehancuran yang bisa dihasilkan tangan ini tidak akan cukup kuat untuk merusak keseluruhan sistem tatanan dari apa yang kita sebut alam semesta.

Dalam kadar tertentu, itu lebih menyehatkan dibanding memendam amarah dan membiarkannya suatu saat lepas tanpa kendali. Walaupun kadar itu sendiri tentu besarnya relatif untuk setiap orang.

Pada akhirnya kita hanya akan bisa membiarkan diri kita sendiri, dan orang lain, berpikir masing-masing, dan merasa masing-masing. Ya tentunya suatu saat kita bisa menghibur orang lain dengan kebenaran, agar semua pikiran buruk dan spekulasi di kepala orang itu bisa tereduksi. Karena, spekulasi mengenai berbagai macam kemungkinan adalah hal terburuk yang bisa ada di kepala seseorang. Spekulasi mengenai sesuatu yang diluar pengetahuan membuat kita tidak bisa tidur, bertanya-tanya mengenai mana yang benar itu sebenarnya. Tapi kadang kita membiarkan orang itu berspekulasi, karena kita memang takut mengatakan kebenaran, atau murni karena kita memang ingin menambah sedikit penderitaan di kepala orang lain.


You are what you think”, kata orang-orang sebagai penyederhanaan dari apa yang kita sebut sebagai hukum ketertarikan. Dan pikiran buruk yang melintas dalam suasana penuh amarah adalah sesuatu yang lebih cepat mewujud dibanding kebaikan, kata orang-orang sebagai pembenaran bahwa kadang tidak segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita. Tentunya, ketika itu terjadi, kita akan menyesal begitu rupa mengapa keburukan itu sampai pernah terlintas dalam pikiran kita, dan menyalahkan diri kita sendiri ketika keburukan itu mewujud jadi nyata.

Padahal adalah wajar kalau kita tidak mendapatkan segala sesuatu sesuai keinginan kita. Hidup memang dibangun dari ketidakadilan-ketidakadilan. Begitu tidak adilnya sehingga dalam skala yang lebih luas, semua orang mendapat ketidakadilan yang sama, dan kadang keadilan yang sama, sehingga semuanya menjadi adil. Ya memang dalam kasus-kasus tertentu, pada suatu saat dua orang berbagi ketidakadilan dan saling menguatkan satu sama lain, tapi yang satu kemudian meninggalkan yang lain ketika keadilan datang padanya. Well, that’s just life. Dan kadang, orang yang ditinggalkan memang dituntut untuk bisa mengerti bahwa dalam skala yang lebih luas, tentu semuanya ada alasannya, dan masih dalam taraf adil.

Kita tidak bisa menuntut dia yang mendapat keadilan untuk membangun pengertian yang sama untuk orang yang dia tinggalkan, karena memang tidak ada alasan untuk dia memikirkan hal itu. Dia akan bisa mengucapkan hal yang sama: “Well, that’s just life”. Tapi tentunya dengan standar kelegaan yang berbeda.

“Sansak” kemudian memang menjadi penemuan yang hebat untuk menghadapi kasus semacam ini. Blog ini pun akhirnya menjadi sansak saya.


Maka, kencan dengan diri sendiri ini bisa kita tutup dengan sebuah perintah... “Enough babbling!”

Mari kita memandangi bintang-bintang...



Ket.: Gambar diambil dari http://www.stfc.ac.uk/PMC/PRel/STFC/Universe.aspx?pf=1

Wednesday, October 07, 2009

I Walk The Line

(Mohon maaf untuk para pembaca yang sebelumnya mengakses tulisan ini tapi banyak yang tidak terbaca. Sudah saya perbaiki. Semoga sekarang terbaca semua. Terima kasih.)



I Walk The Line

- Johnny Cash (1955) -

I keep a close watch on this heart of mine
I keep my eyes wide open all the time
I keep the ends out for the tie that binds
Because you're mine, I walk the line

I find it very, very easy to be true
I find myself alone when each day is through
Yes, I'll admit that I'm a fool for you
Because you're mine, I walk the line

As sure as night is dark and day is light
I keep you on my mind both day and night
And happiness I've known proves that it's right
Because you're mine, I walk the line

You've got a way to keep me on your side
You give me cause for love that I can't hide
For you I know I'd even try to turn the tide
Because you're mine, I walk the line

I keep a close watch on this heart of mine
I keep my eyes wide open all the time
I keep the ends out for the tie that binds
Because you're mine, I walk the line



Dari Wikipedia:
"I Walk the Line" is a song written by Johnny Cash and recorded in 1956. A 1970 movie drama of the same name, starring Gregory Peck, featured a soundtrack of Johnny Cash songs including the title song. In 2005, a biographical film entitled Walk the Line was produced starring Joaquin Phoenix as Johnny Cash and Reese Witherspoon as June Carter, directed by James Mangold.

Lebih lengkapnya, bisa dibaca saja di: http://en.wikipedia.org/wiki/I_Walk_the_Line

Siapa (mendiang) Johnny Cash, bisa dibaca juga di: http://en.wikipedia.org/wiki/Johnny_Cash

Saya suka Johnny Cash, terutama lagu ini. Lagu-lagun
ya sederhana, dengan lirik lugas dan tajam, selalu diilhami dari apa yang dia alami dan rasakan. Lirik yang emosional di setiap baitnya, terutama bila kita mendengarnya dan berbagi perasaan yang sama (seperti saya waktu membuat postingan ini misalnya). Lirik memang kekuatan utama lagu-lagunya, disamping aksi panggung yang, pada waktu itu, memukau. Dari lagu-lagunya kita mendapat kesan bahwa dia sudah merasakan macam-macam. Ring of Fire adalah salah satu lagu lainnya dari Cash yang saya suka. Johnny Cash menjadi salah satu artis yang musiknya kelak membawa perubahan revolusioner pada musik dunia. Gayanya membawa gitar di punggung dengan terbalik bahkan menjadi ikon tersendiri sampai sekarang.

Ada banyak versi dari lagu ini. Saya sertakan beberapa v
ersi yang saya suka:
  1. Versi Johnny Cash muda (23 tahun) waktu menyanyikan lagu ini pada tahun 1956, bisa dilihat di: http://www.dailymotion.com/video/x1o9sk_young-johnny-cash-i-walk-the-line_music
  2. Versi dinyanyikan ulang oleh grup band Live sekitar tahun 2005an. Versi yang cukup kuat. Saya lebih suka versi ini dibanding versi aslinya. Bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=9_daJjRrv0A
  3. Versi dinyanyikan oleh Chris Daughtry pada American Idol tahun 2006. Versi yang paling saya suka. Sangat kuat. Ketika dia membawakan lagu ini, saya berpendapat dia seharusnya bisa jadi juara tahun itu. Bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=vkbK175J5oA


Judul lagu ini juga menjadi judul film tentang biografi Johnny Cash muda. "Walk The Line" (2005) dibintangi oleh Joaquin Phoenix sebagai Johnny Cash dan Reese Witherspoon sebagai June Carter yang kelak menjadi istri Cash. Film ini mendapat 5 nominasi oscar, tapi hanya 1 piala yang akhirnya didapat, yaitu pada kategori Best Actress. Trailer filmnya bisa dilihat di:http://www.youtube.com/watch?v=GsvZGwd8vrI

Mengenai arti dari frase "walk the line" sendiri, ada banyak perdebatan disini. Banyak pendapat mengatakan bahwa frase ini berarti "melakukan hal yang benar", berjalan di jalan yang "lurus", mempertahankan sebuah keseimbangan yang rapuh antara satu sisi ekstrim dengan sisi ekstrim lainnya. Dalam konteks lain, frase ini kadang juga berarti "menjalani hukuman", dalam pengertian menjalani proses pengadilan atau menjalani status sebagai terdakwa atau "rela" masuk penjara. Pendapat lain yang lebih romantik menghubungkan frase ini dengan komitmen. Komitmen dalam hal percintaan misalnya, dimana seseorang memantapkan komitmennya untuk mencintai seseorang dan rela menjalani "apapun" untuk mempertahankan kesetiaannya pada cinta itu. (aiiiiih... romantik sekali kan pemaknaannya?)

Untuk Johnny Cash sendiri... nampaknya bagi dia lagu ini bisa berarti semuanya. Ini adalah salah satu lagu hit pertama dia, dan masuk dalam album pertamany
a.

Melihat sejarahnya (dihubungkan dengan "kapan" lagu ini diciptakan), lagu ini diciptakan untuk istri pertama Cash, dimana dia berjanji untuk tetap setia.
Versi sejarah ini jelas berbeda dengan versi filmnya. Entah mana yang benar. Yang jelas, dalam perkembangannya, Cash ternyata tidak sepenuhnya "walk the line" pada istri pertamanya itu. Dia bertemu dengan June Carter setelah dia tenar, dan dalam satu kesempatan mengatakan pada Carter bahwa "suatu saat aku ingin menikahimu". Johnny Cash dan June Carter kemudian memang terlibat jalinan asmara, tapi tidak menindaklanjutinya sampai akhirnya Johnny Cash bercerai dengan istri pertamanya tersebut (hal yang kemudian menjadi pembenaran bagi para penggemar Cash untuk setidaknya mengatakan: "tuh... kan... berarti dalam hal ini bisa dibilang bahwa Cash tetap orang yang setia dong?"). Perceraian itu sendiri terjadi karena Cash terlibat dengan alkohol dan obat bius.

Karena kecanduan obat bius itu jugalah, June Carter pun kemudian menolak Cash yang ingin menikahinya. June mengatakan (kira-kira) "You can never walk any line with me in that (condition)". Maka Cash pun berhenti mencandu.
Pada satu kesempatan Johnny Cash juga pernah terlibat masalah hukum. Dia masuk penjara setelah June Carter menasihatinya untuk tidak melawan hukum dan harus mau bertanggung jawab menjalani hukuman atas apa yang telah dia lakukan. Johnny dan June akhirnya menikah, sampai ajal memisahkan mereka di tahun 2003. June Carter Cash meninggal dunia pada 15 Mei 2003. Johnny Cash meninggal tak sampai 4 bulan setelahnya, 12 September 2003.
Well... I guess Johnny sure walked the line with June.

Jadi...
Lagu ini memang bisa berarti banyak untuk seorang Johnny Cash.

Untuk para pendengarnya (termasuk saya), arti yang mana yang mau dipilih, sebenarnya terserah saja, sesuai kondisi yang dihadapi masing-masing. Apapun... ini tetap sebuah lagu yang bagus.




NB: Here's for you, Johnny. Thanks for the song tonight.

Thursday, September 24, 2009

Seputar Lebaran


Assalamu'alaikum wr. wb.

"Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum.
Selamat hari raya iedul fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga kita menjadi ummat yang semakin bisa mencintai Allah."

.....

Tadinya, saya mau mengakhiri postingan selamat lebaran ini sampai disini saja.
Tapi mengingat sudah cukup lama juga saya tidak posting di blog ini, mungkin ada baiknya diperpanjang sedikit ya... =D

Sama seperti tahun lalu, ucapan selamat lebaran di atas menjadi template sms lebaran saya untuk semua teman, keluarga, maupun kolega. Ada beberapa alasan mengapa saya tidak mengganti sms lebaran saya tahun, dan masih menggunakannya tahun ini.

  1. Pertama, karena memang setiap tahun yang diucapkan ketika lebaran ya itu.
  2. Kedua, untuk saya isinya sudah cukup mencakup semua yang mau saya katakan.
  3. Ketiga, karena saya tidak terlalu suka sms-sms lebaran yang isinya penuh puisi, syair, maupun pantun-pantun yang untuk saya lebih bernada basa-basi dan lebih mementingkan rima tapi kadang malah tidak sampai pokok pentingnya.
  4. Keempat, karena jumlah karakter dalam template saya itu (ditambah 4 huruf nama saya, supaya yang dikirim tau kalau itu dari saya), persis tepat untuk 1 lembar sms, jadi lumayan berhemat daripada panjang sampai berlembar-lembar. Maklum, untuk dikirim ke banyak orang.
  5. Kelima, ya karena saya malas bikin template baru.

Tapi sama juga seperti tahun lalu, beberapa orang yang saya kirim sms tersebut nampaknya cukup tergelitik untuk mempertanyakan baris terakhir sms saya itu, yang berbunyi "Semoga kita menjadi ummat yang semakin bisa mencintai Allah".

Dasar pertanyaannya sebenarnya cukup sederhana, yaitu karena lebih banyak do'a yang bunyinya itu sebaliknya. Misalnya, minta dirahmati dan diberkati oleh Allah, dan do'a untuk minta Allah mencintai kita, dan dilanjutkan dengan permohonan-permohonan lain.
Tapi jawaban saya juga sederhana. Kita mungkin memang sudah tidak perlu lagi meragukan cinta Allah ke kita. Ya oke, mungkin kadang kita lupa atau kita ragu. Tapi dengan begitu banyak yang telah diberikanNya, kadang agak canggung untuk meminta Allah mencintai kita. Sepertinya yang lebih sering kita lupakan adalah... apakah kita sudah cukup membalas cinta itu? Apakah kita sudah mencintai Allah?

Ya tentunya memang tidak mungkin bagi kita untuk bisa memberi balasan cinta yang setimpal pada Allah. Makanya saya cuma doakan semoga kita bisa semakin (dalam pengertian lebih dari sebelumnya) mencintai Allah. Ini tak lebih dari sekedar mengingatkan diri sendiri juga sebenarnya. Toh walaupun saya bicara begini juga pada kenyataannya saya masih begitu jauh dari kata "baik" =p

....


Selain itu, ada beberapa hal lain yang mungkin perlu diketahui (bagi yang belum) dalam konteks lebaran. Sekedar memberi informasi. Penyikapannya mau bagaimana, terserah para pembaca yang budiman saja.


....

Ucapan "Minal 'Aidin wal Faizin"
Ucapan ini sering diucapkan ketika lebaran di Indonesia, dan sangat sering sekali (perhatikan: sangat sering sekali) dirangkaikan dengan ucapan "mohon maaf lahir dan batin". Bahkan banyak lagu lebaran yang merangkaikan kedua kalimat ini. Akibatnya, banyak yang menyangka bahwa kedua kalimat itu artinya sama, atau bahwa "mohon maaf lahir dan batin" itu merupakan terjemahan dari "minal 'aidin wal faizin".

Sekedar informasi, ungkapan "minal 'aidin wal faizin" hanya dikenal di Indonesia (hebat kaaan?) dan konon tidak dikenal di budaya negara-negara Islam lain. Bahkan tidak ada juga dalam kamus bahasa arab, kecuali kata per kata. Ucapan ini bukan hadits dan tidak bersumber pada Rasulullah SAW. Bahkan... tidak diketahui darimana sumbernya. Meski begitu, sebenarnya sah-sah saja untuk setiap kelompok masyarakat (atau bangsa atau negara) untuk menciptakan ungkapan-ungkapan selamatnya sendiri. Jadi ya silakan saja kalau mau dipakai. Tapi mungkin lebih baik juga kalau tau sedikit artinya.

Saya memang bukan ahli bahasa arab. Bahkan, saya tidak bisa berbahasa arab dan mengaji pun masih terbata-bata. Jadi silakan yang lebih tau, bisa mengkoreksi. Tapi berdasarkan beberapa referensi (buku-buku, tanya teman, tanya ustadz, majalah, blog orang, tivi, dll.), ungkapan minal 'aidin wal faizin artinya sama sekali bukan mohon maaf lahir dan batin. Secara ringkas, "al 'Aid" artinya kira-kira "orang-orang yang kembali", dan "al faiz" artinya kira-kira "orang-orang yang meraih kemenangan/berhasil". Jadi "min al 'aidin wa al faizin" atau "minal 'aidin wal faizin" kira-kira artinya "dari golongan orang-orang yang kembali dan orang-orang yang meraih kemenangan". Kalau dalam konteks do'a atau ucapan selamat, mungkin kira-kira artinya "semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang kembali (pada agama) dan orang-orang yang meraih kemenangan (dalam melawan hawa nafsu ??)".

Nah, semenjak beberapa tahun lalu setelah saya tau arti ucapan ini, maka setiap lebaran kalau mau minta maaf ke orang lain saya biasanya langsung saja mengucapkan pakai bahasa Indonesia "mohon maaf lahir dan batin", daripada pakai bahasa arab tapi artinya beda. Atau gabungkan keduanya sekaligus. Yang kemudian menggelitik adalah kalau ada yang ketika salaman sekedar berucap "minal 'aidin yaaaa" (sambil senyum). Mungkin maksudnya supaya singkat dan berkesan akrab, dan karena mengira artinya adalah "mohon maaf yaaaa". Padahal beda.

Tapi tentu akan ada juga yang bilang "yang penting maksudnya di hati itulah". Ya terserah kalau begitu. Ini sekedar memberi informasi saja.


.....

Ucapan "Taqabbalallahu Minna wa Minkum"
Ucapan ini saya belum jelas statusnya apa. Ada yang bilang hadits, tapi nampaknya sanadnya sendiri masih ada perdebatan. Ada beberapa yang menyebutkan bahwa ini adalah hadits, diucapkan Rasulullah SAW dan dijawab oleh para sahabat dengan "shiyaamanaa wa shiyaamakum".

Meski begitu, Al-Baihaqi adalah salah satu ulama yang menyebutkan bahwa hadits ini dhaif. Sebagai gantinya beliau menuliskan sebuah riwayat yang bukan hadits dari Rasulullah SAW, melainkan hanya riwayat yang menjelaskan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendiamkan ungkapan tersebut. Bahwa Adham maula Umar bin Abdil Aziz berkata,”Dahulu kami mengucapkan kepada Umar bin Abdil Aziz pada hari ‘Ied, “taqabbalallahu minaa wa minka, ya amiral mukminin”, maka beliau pun menjawabnya dan tidak mengingkarinya. (Lihat As-Sunan Al-Kubra, oleh Al-Baihaqi jilid 3 halaman 319). Ini saya ambil dari salah satu rubrik konsultasi di eramuslim.com yang diasuh oleh Ahmad Sarwat, Lc pada tanggal 11-11-2005.

Meski begitu, ustadz Ahmad Sarwat Lc ini juga lebih lanjut menjelaskan bahwa meski sebuah hadits itu dianggap dha’if, tapi selama tidak sampai tingkat kedhaifan yang parah, masih bisa dijadikan landasan amal dalam hal-hal yang bersifat keutamaan. Maksudnya, meski dha’if tetapi tidak palsu, jadi hanya lemah periwayatannya tetapi tetap hadits juga. Dan jumhur ulama pada umumnya bisa menerima hadits dha’if asal tidak terlalu parah, paling tidak untuk sekedar menjadi penyemangat dalam keutamaan amal-amal (fadhailul a’mal).

Oh iya lupa. Artinya apa? "Taqabbalallahu minaa wa minkum" kira-kira artinya “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda semua”. Adapun tambahan ucapan "shiyaamanaa wa shiyaamakum" kira-kira artinya "shaum (puasa) ku dan Anda". Jadi kalau dua kalimat itu digabungkan, kira-kira artinya "Semoga Allah SWT menerima amalan ibadah kita semua, dan demikian juga menerima puasa kita (di bulan Ramadhan)"

Untuk saya pribadi, karena setidaknya ungkapan ini lebih jelas riwayatnya pada Rasulullah SAW dibanding "minal 'aidin wal faidzin", maka saya biasanya lebih memilih untuk mengucapkan ungkapan ini ketika lebaran. Biasanya kemudian saya tambahkan juga ucapan "mohon maaf lahir dan batin", karena memang saya mau minta maaf juga selain mendoakan si orang yang sedang bersalaman dengan saya itu.

Bisa saja kita gabung ketiga-tiganya: taqabbalallahu minna wa minkum, minal 'aidin wal faizin, dan mohon maaf lahir dan batin. Tapi tentunya ini kepanjangan dan melelahkan =D


.....

Halal bi Halal
Nah! Ini satu lagi budaya yang hanya dikenal oleh komunitas muslim Indonesia. Budaya ini cukup baik sebenarnya, karena bisa mempererat silaturahim.

Ketika lebaran kemarin saya ga sengaja nonton (di Metro TV gitu?) Pak Quraish Shihab membahas ini. Beliau juga mengaku heran dengan budaya halal bi halal ini, karena tidak menemukannya di negara-negara lain. Apalagi dilihat dari namanya, beliau lebih keheranan lagi. "Halal bi halal" kira-kira berarti "halal dan halal". Ini maksudnya apa?

Pak Quraish Shihab kemudian memberi penjelasan yang cukup cantik. "halal" dalam bahasa Indonesia bisa berarti "boleh, lapang, lega". Jadi halal bi halal mungkin bisa diartikan sebagai sesuatu yang menjadikan hati kita lapang atau lega, sehingga bisa mempererat kembali tali silaturahim. Ya "pembenaran" ini bisa cukup mendekati untuk event halal bi halal yang biasa kita kenal sepertinya (bisa aja bapak yang satu ini... =p).
Tapi karena tidak jelas juga siapa pencipta istilah halal bi halal ini, dan darimana asalnya, tentu penjelasan tadi tidak bisa dikonfirmasi juga kebenarannya apakah memang seperti itu. Yah, kita anggap saja memang begitu.


......

Menyikapi Idul Fitri
Saya sejak dulu sering merasa heran akan kontradiksi ini. Di satu sisi, banyak hadits yang menyebutkan bahwa kita harus bergembira ketika menjelang Ramadhan dan betapa sedihnya Rasulullah SAW ketika Ramadhan akan meninggalkan kita, karena kita tidak tau apakah tahun depan akan berjumpa dengan Ramadhan lagi atau tidak, dan karena banyaknya keutamaan saat bulan Ramadhan.

Akan tetapi, kenapa ketika lebaran seolah diisi dengan kegembiraan semata? Bukankah lebaran itu berarti berakhirnya Ramadhan dan awal bulan syawal? Sedihnya itu ditaruh dimana? Apalagi kalau lihat acara-acara di televisi waktu lebaran dan budaya borong memborong belanjaan menjelang lebaran. Sepertinya semua jadi agak terlalu berlebihan gembiranya. Karena berlebihan jadi lupa dengan yang harusnya disedihkan.

Ya baiklah kalau kita bisa berbahagia karena bisa kembali bersilaturahim dengan keluarga, saling maaf memaafkan dan kembali berhubungan baik dengan semua orang. Juga berbahagia karena telah melalui satu periode pelatihan di bulan Ramadhan.

Tapi tentu kita juga perlu berpikir bahwa "perang" belum usai. Bahkan baru dimulai, karena Ramadhan adalah masa latihannya. Juga belum tentu kita sudah meraih "kemenangan", karena Allah SWT yang menentukan apakah puasa kita itu baik atau tidak, diterima atau tidak.

Agak kontradiktif buat saya. Ya mungkin juga karena saya sekedar merasa ada sesuatu yang berlebihan dirayakannya saja sepertinya.

Entahlah.


....

Demikian beberapa hal yang ingin saya bagi. Kalau ada salah-salah, tentu itu dari saya. Yang benar dari Allah SWT. Wallahu a'lam bish-showab.


Selamat lebaran semua :)



NB: Sumber gambar dari (maaf ga ijin) http://bits.comlabs.itb.ac.id

Thursday, July 16, 2009

Jam Kerja? Jam Kantor? Apa itu?



Tadi malam, ketika jam menunjukkan pukul 19.30, saya bersiap meninggalkan kantor. Saya pikir: "hey, sudah jam 19.30. Orang-orang sudah pada pulang semua. Saya biasa datang jam 8 pagi dan jam segini saya masih di kantor. Saya memang rajin."

Akan tetapi kejadian 12 jam berikutnya membuat saya sadar bahwa kesombongan itu akan selalu mendapatkan hukuman.

Tepat ketika saya beranjak hendak pamit ke bos, pak bos malah bertanya: "Wan, nanti tidur di sekretariat kan? Dekat lah ya, gak ke Bogor. Saya minta tolong dong. Ini ada kerjaan sedikit... blablablablablablabla..."

"Sial..." (pikir saya dalam hati)

Dan akhirnya duduklah saya kembali didepan komputer kantor, mengetik-ngetik, dan memesan mie goreng sebagai makan malam karena cacing-cacing di perut saya yang gendut ini mulai berteriak karena mereka takut kurus. Tentunya, mie goreng itu saya bayar sendiri.

Akhirnya, selesailah pekerjaan itu pukul 21.30. Saya segera pamit dan langsung keluar karena badan sudah gerah ingin mandi, dan mata sudah ngantuk ingin bobo. Saya tidak ingat berapa lama saya tidur. Tapi yang jelas saya bangun sekitar pukul 05.15.

Ketika saya bangun, seorang teman sudah datang menghampiri.
Kata-katanya cukup mengejutkan. Bos akan datang ke tempat saya tidur itu sekitar 10 menit lagi. Saya disuruh dibangunkan dan siap-siap, tapi tidak perlu mandi dulu katanya.

Pada akhirnya memang pukul 05.45 Pak Bos sudah datang, masih dengan celana pendek dan kaus oblong yang dipakainya tidur. Saya pun menghadap dengan memakai sweater yang saya pakai setiap malam untuk tidur (sehingga belum dicuci selama seminggu) dilengkapi sarung yang juga belum dicuci selama seminggu. Itulah setelan tidur saya setiap hari memang.

Ternyata ada koreksi-koreksi untuk pekerjaan saya yang semalam. Dan sebelum jam 7 saya diminta untuk menyelesaikan koreksian itu, sambil menunggu dia menumpang mandi. Maka jadilah saya menyalakan komputer pukul 06.00 untuk kemudian bekerja sampai pukul 07.00, kemudian mandi, dan bergegas ke kantor pukul 08.00.

......



Heran.
Seingat saya, pada zaman revolusi industri di Inggris setelah James Watt menciptakan mesin uap dulu, diciptakan sebuah konsep yang namanya "jam kerja". Untuk yang kerja kantoran ya namanya "jam kantor".
Pun pada tahun 1960-an ketika banyak serikat pekerja bermunculan di seluruh dunia, setau saya diciptakan sebuah mekanisme yang dinamakan "upah lembur".

Itu apa artinya ya?